Validasi XHTML Part 2
Melanjutkan artikel tentang HTML kemarin,masih seputar validasi dokumen HTML. Tingkatan validasi HTML dibagi menjadi 3 besar. Adanya pengelompokan ini karena DTD saja, sebagai catatan, DTD adalah Document Type Definition. Jenis DTD ini mempengaruhi bagaimana penulisan dokumen HTML yang benar. Intinya jika menggunakan DTD tipe A, maka penulisan dokumen HTMLnya harus sesuai dengan aturan yang telah didefiniskan oleh DTD A tersebut, maka dokumen HTML disebut valid. DTD ini dibuat oleh W3C, dan tiap browser sudah mengadopsi DTD ini. Berikut ini adalah DTD-DTD yang bisa digunakan.
XHTML 1.0 Transisional
<!DOCTYPE html PUBLIC “-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN” http://www.w3c.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd>DTD ini sudah mengimplementasikan aturan XHTML (makanya disebut dengan transisional) tetapi aturannya tidak begitu ketat, misalkan masih diperbolehkan menggunakan tag untuk mempengaruhi display, misal seperti ini
<p color="blue" font="arial">bimoweb[dot]com</p>
XHTML 1.0 Frameset
<!DOCTYPE html PUBLIC “-//W3C//DTD XHTML 1.0 frameset //EN” http://www.w3c.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1- frameset.dtd>
DTD ini digunakan untuk dokumen yang menggunakan frame. Saya sendiri jarang menggunakan DTD ini, sehingga tidak bisa bercerita banyak
XHTML 1.0 Strict
<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd">Adalah DTD yang memiliki aturan yang sangat ketat,bisa dibilang paling ketat dibanding yang lain. Penggunaan tag untuk display akan mendapatkan warning dari XHTML validator (bisa menggunakan plug in atau W3C validator). Seluruh urusan format tampilan dikerjakan oleh CSS. Penggunaan karater-karaker yang tidak standar juga tidak boleh. XHTML versi ini dirasa cukup bersih. Lalu keuntungannya apa? selain bisa ditampilkan sama pada berbagai macam browser, juga bisa ditampilkan pada perangkat bergerak macam PDA atau ponsel dan katanya proses parsing oleh browser menjadi lebih cepat. Ada kabar juga bahwa google suka dengan dokumen HTML yang valid.
Bagaimana memilih validasi diatas? ini sih pengalaman pribadi, saya sendiri lebih suka menggunakan validasi yang terakhir atau strict, alasannya ingin hasil yang maximal.










Wah.. lg konsen ngajar Web design ni
woow mantabs juragan
html 5 ktnya ngga perlu pake doctype kl ngga butuh validasi..jd doctype cuman semacam etika bagi validator..toh peramban dan mesin pencari akan tetap bs “membaca”nya dgn baik..
apapun doctype-nya, kl mau strict memisahkan konten dgn tampilan, ktnya akan lbh baik..tanpa memperhatikan frame, transitional atau strict..
sptnya sampai saat ini blm ada kabar mesin pencari lbh memilih halaman yg valid..
cmiiw
ktnya lg..halaman yg banyak errornya (selama masih cukup terbaca oleh mesin pencari) tetap bs ranking 1 di mesin pencari
positifnya, validasi dan strict ternyata masi disukai oleh seo analyzer, webagogo dan accessites.org (saja)
jd mnrt saya pribadi, validasi hanya alat utk belajar membantu menulis kode yg baik..
makasi mas..tulisannya apik2..
kantau bloger ang mah